Selasa, 02 Agustus 2011

Mentalitas Manusia dan Pembangunan Bangsa Indonesia


Mentalitas Manusia dan
Pembangunan di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Dengan beribu-ribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan alam serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup di berbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing-masing. Hal tersebut berakibat akan adanya perbedaan latar belakang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakatnya. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam latar belakang budaya, etnik, agama sehingga dinamakan masyarakat multikultural atau masyarakat dengan banyak budaya.
               Dengan beraneka ragamnya masyarakat Indonesia itu, menjadikan kita masih belum mempunyai bayangan mengenai bentuk masyarakat apa yang sebenarnya ingin kita capai bersama, tetapi jelas bahwa pembangunan kita harus berusaha untuk menjadikan masyarakatnya lebih makmur dari sekarang, bahwa kita harus berusaha untuk menghasilkan karya yang lebih dapat kita banggakan.
               Salah satu faktor penghambat pembangunan kita saat ini adalah faktor sikap mental sebagian besar dari manusia Indonesia yang belum cocok dengan pembangunan. Namun untuk mengubah sikap mental itu, kita harus mengetahui apakah sikap mental itu dan sikap mental apa yang cocok untuk pembangunan Indonesia.

B.     Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini diantaranya :
1.      Dalam kebudayaan bangsa Indonesia, faktor apa saja yang menghambat pembangunan di Indonesia?
2.      Apa sikap mental yang cocok untuk pembangunan?
3.      Bagaimana kelemahan mentalitas Indonesia dalam pembangunan?
4.      Bagaimana upaya mengembangkan mantalitas bangsa Indonesia?
5.      Sebutkan ciri-ciri manusia menurut Mochtar Lubis!
6.      Bagaimanakah masalah profesionalisme?
C.    Tujuan Penulisan
Secara umum, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan kejelasan tentang budaya dan mentalitas bangsa Indonesia. Adapun tujuan penulisan makalah ini secara khusus adalah sebagai berikut:
1.       Untuk mengetahui apakah sebenarnya isi dari kebudayaan.
2.      Untuk mengetahui bagaimana kebudayaan itu berwujud.
3.      Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan sikap mental dan mentalitas pembangunan.
4.      Untuk mengetahui sikap mental apa yang cocok dalam pembangunan Indonesia.
5.       Untuk mengetahui apakah kelemahan mentalitas bangsa Indonesia untuk pembangunan.
6.      Untuk mengetahui bagaimana mengembangkan mentalitas pembangunan Indonesia.
7.      Untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri manusia menurut Mochtar Lubis.
8.      Untuk mengetahui bagaimana masalah profesionalisme.




BAB II
PEMBAHASAN

Mentalitas Manusia dan
Pembangunan di Indonesia

A.    Kebudayaan Indonesia dalam Pembangunan
Ada beberapa faktor yang menghambat pembangunan di Indonesia. Faktor-faktor tersebut seperti faktor kenaikan penduduk, faktor aneka warna bangsa Indonesia dan faktor sikap mental bangsa Indonesia.

1.      Faktor Kenaikan Penduduk
Faktor jumlah penduduk yang besar dan laju kenaikan penduduk yang makin lama makin cepat adalah suatu faktor penghambat pembangunan yang memang masih belum kita sadari. Apalagi laju kenaikan penduduk di Indonesia merupakan salah satu di antara yang paling cepat di dunia.
Laju kenaikan penduduk yang amat cepat di banyak negara yang sedang berkembang itu disebabkan karena negara-negara tersebut telah melepaskan diri dari keseimbangan alamiah. Maksudnya dalam keadaan keseimbangan alamiah, jumlah bayi yang dilahirkan dalam suatu masyarakat dapat diimbangi dengan suatu jumlah kematian anak yang tinggi, sehingga jumlah penduduk dalam masyarakat itu pada keseluruhannya tetap seimbang.
Perbedaan jumlah penduduk di berbagai provinsi di Indonesia juga menyebabkan aneka warna hambatan terhadap pembangunan. Daerah yang tidak padat penduduknya akan kekurangan tenaga kerja, sebaliknya di daerah yang padat penduduknya akan kelebihan tenaga kerja sehingga daerah tersebut akan mengalami masalah pengangguran. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa perbedaan antara daerah yang tidak padat dan yang padat penduduknya, tidak secara otomatis menyebabkan suatu mobilitas pemindahan penduduk.

2.      Faktor Aneka Warna Bangsa Indonesia
Faktor aneka warna bangsa adalah suatu sifat dari bangsa Indonesia yang sering kita banggakan; sebaliknya sifat itu juga mempunyai aspek yang membuat pembangunan ini lebih sukar. Hal tersebut mudah kita mengerti, mengatur dan mengurus sejumlah orang yang semua sama ciri-ciri, kehendak, adat istiadatnya adalah sudah tentu jauh lebih mudah daripada mengurus sejumlah orang yang semuanya berbeda-beda mengenai hal-hal tersebut, apalagi kalau orang-orang yang berbeda-beda itu tidak dapat bergaul baik satu dengan lain.
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan, hal tersebut tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik apabila kita saling mengembangkan sikap primordialisme.
Konflik antara suku bangsa dan golongan yang beraneka ragam, apabila terjadi bisa mengganggu ketenangan yang kita butuhkan untuk melakukan pembangunan. Selain itu, keanekaragaman suku bangsa di Indonesia juga dapat menghambat pembangunan karena kesukaran untuk menyusun suatu kebijaksanaan yang seragam, dan karena kesukaran untuk berkomunikasi dengan aneka warna rakyat yang mempunyai bahasa, sistem nilai budaya, dan aspirasi yang berbeda-beda pula.

3.      Faktor Sikap Mental Bangsa Indonesia
Faktor sikap mental sebagian besar dari manusia Indonesia belum cocok dengan pembangunan. Namun untuk mengubah sikap mental itu, kita harus mengetahui apakah sikap mental itu dan sikap mental apa yang cocok untuk pembangunan Indonesia.

B.     Sikap Mental yang Cocok Untuk Pembangunan
Kata sikap mental menurut istilah ilmiah disebut “sistem nilai budaya” (cultural value system) dan “sikap” (attitude). Sistem nilai budaya adalah suatu rangkaian dari konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidupnya. Dengan demikian suatu sistem berfungsi sebagai pengarah dan pendorong kelakuan manusia. Karena sistem nilai budaya itu hanya merupakan konsep yang abstrak, tanpa perumusan yang tegas, maka konsep itu biasanya hanya bisa dirasakan, tetapi sering tidak dapat dinyatakan dengan tegas oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
Ada beberapa konsep sistem nilai budaya yang cocok untuk pembangunan.
1.      Dalam menghadapi hidup, orang harus menilai hal yang menggembirakan dari hidup; dan bahwa ada kesengsaraan, bencana, dosa dan keburukan dalam hidup memang harus disadari, tetapi hal itu semuanya adalah untuk diperbaiki.
2.      Menilai tinggi karya manusia guna mendapatkan hasil karya yang lebih banyak lagi. Semua suku-suku di Indonesia sebagian besar masih bermata pencaharian sebagai petani miskin. Karena itu karyanya biasanya hanya ditujukan kepada usaha untuk mencari makan memenuhi kebutuhan hidup yang primer. Adapun masyarakat Indonesia yang tinggal di kota, hanya mementingkan gelar-gelar akademis tanpa mementingkan keterampilan atau keahlian. Sikap mental seperti itu kurang cocok untuk pembangunan, karena condong untuk meremehkan karya serta hasilnya. Sikap mental seperti itu bisa juga membuat seseorang kurang tabah dan ulet dalam bekerja.
3.      Suatu nilai budaya yang perlu dimiliki oleh sebagian besar manusia Indonesia dari semua lapisan masyarakat adalah nilai budaya yang berorientasi ke masa depan. Suatu nilai budaya semacam itu akan mendorong manusia Indonesia untuk melihat dan merencanakan masa depannya dengan lebih saksama dan teliti dan oleh karena itu akan memaksa manusia untuk hidup berhati-hati dan untuk berhemat.
4.      Menilai tinggi kerjasama dengan orang lain. Hal itu memang merupakan unsur pokok dari apa yang kita sebut dengan gotong royong.

Dari uraian di atas, tampak bahwa ternyata sikap mental sebagian besar bangsa Indonesia belum cocok untuk pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa kita belum siap untuk memulai pembangunan sebelum sikap mental bangsa Indonesia itu diubah, dicocokkan dan dimatangkan untuk pembangunan. Merombak suatu sistem nilai budaya yang telah berjalan lama tentu akan memakan waktu yang lama pula. Namun cara yang paling utama adalah melalui pendidikan, tidak hanya pendidikan formal tetapi juga melalui pendidikan nonformal. Karena apabila kita mengabaikan masalah sikap mental ini, sudah terbukti dengan lambatnya proses pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia.
C.    Kelemahan Mentalitas Bangsa Indonesia Dalam Pembangunan
Kelemahan mentalitas bangsa Indonesia dalam pembangunan dapat dilihat dari konsep yang tidak bersumber kepada suatu nilai budaya yang berorientasi terhadap hasil dari karya manusia itu sendiri, tetapi hanya terhadap karya.
Selain itu, orientasi yang terlampau banyak terarah ke zaman yang lampau akan melemahkan kemampuan seseorang untuk melihat ke masa depan. Hal ini sebaliknya akan melemahkan motivasi untuk menabung dan hidup hemat. Unsur mentalitas seperti inilah yang kurang cocok dengan keperluan pembangunan.
Adanya konsep yang dianut oleh sebagian besar bangsa Indonesia yakni menganggap bahwa nasib merupakan hal yang mutlak dan tidak bisa diubah. Pandangan hidup semacam itu telah berkembang menjadi suatu mentalitas yang terlampau banyak menggantungkan diri pada nasib. Suatu mentalitas seperti ini tidak begitu cocok dengan jiwa pembangunan. Kelemahan mentalitas lain yang dapat menghambat pembangunan Indonesia adalah suatu sikap konformisme.
Sifat-sifat kelemahan mentalitas bangsa Indonesia dalam pembangunan yang bersumber pada kehidupan penuh keragu-raguan dan kehidupan tanpa pedoman dan tanpa orientasi yang tegas itu adalah:
  1. Sifat mentalitas meremehkan mutu
  2. Sifat mentalitas yang suka menerabas
  3. Sifat tak percaya pada diri sendiri.
  4. Sifat yang tidak disiplin.
  5. Sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab.

D.    Upaya Mengembangkan Mentalitas Bangsa Indonesia
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah mentalitas yang lemah dan membina suatu mentalitas bangsa Indonesia yang berjiwa pembangunan adalah sebagai berikut:
1.      Dengan memberikan contoh yang baik. Dalam hal memberikan contoh yang baik, kita bisa memanfaatkan suatu nilai budaya yang sebenarnya kurang cocok dengan jiwa pembangunan, misalnya nilai budaya yang terlalu berorientasi ke arah atasan dan orang-orang yang tinggi.
2.      Dengan memberi perangsang-perangsang yang cocok. Misalnya bunga yang menarik dan pelayanan yang baik pula bisa dijadikan sebagai perangsang yang bisa mendorong orang untuk lebih tertarik menabung uangnya di bank.
3.      Dengan pembinaan dan pengasuhan suatu generasi yang baru untuk masa yang akan datang sejak kecil.

E.     Ciri-ciri Manusia Indonesia Menurut Mochtar Lubis
Ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis diantaranya :
1.      Manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik. Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Kalau ditawari sesuatu akan bilang tidak namun dalam hatinya berharap agar tawaran tadi bisa diterima. Banyak yang pura-pura alim, tapi begitu sampai di luar negeri lantas mencari nightclub dan pesan perempuan kepada bellboy hotel. Dia mengutuk dan memaki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor.
2.      Manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi.
3.      Manusia Indonesia berjiwa feodal. Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan.
4.      Manusia Indonesia, masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen.
5.      Manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah.
6.      Manusia Indonesia, tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.    
Dari uraian di atas jelas bahwa mentalitas bangsa Indonesia kurang cocok dalam pembangunan. Contohnya pada uraian kedua dijelaskan bahwa manusia enggan bertanggung jawab dan juga pada uraian terakhir bahwa manusia Indonesia tidak hemat (boros).

F.     Masalah Profesionalisme
Sikap merupakan suatu katagori pada ranah afektif. Ia berarti perbuatan yang  berdasarkan pada pendirian. Pendirian seseorang sering didasarkan pada pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, ada interaksi faktor kognitif dengan sikap. Sikap yang apriori terhadap suatu objek dapat menghambat pencapaian suatu kompetensi kognitif. Sebaliknya, untuk mengubah suatu sikap diperlukan pemahaman yang sifatnya kognitif. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa untuk mewujudkan sikap profesionalisme dibutuhkan pemahaman yang bersifat kognitif terhadapnya.
Profesionalisme tidak hanya sebatas komitmen yang diikrarkan. Lebih dari itu, hendaknya terwujud dalam upaya terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakan dalam menjalankan suatu profesi. Beberapa pemikiran dari Danim (2002: 21- 26 ) yang gayut dengan permasalahan ini, sebagaimana diungkapkannya:
a.              Seseorang yang profesional melakukan pekerjaan secara otonom;
b.              Para profesional mengabdikan diri pada pengguna jasa dengan disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya itu;
c.              Kinerja yang dipertunjukkan para profesional dimuati oleh unsur-unsur kiat atau seni yang menjadi ciri tampilan profesional ditambah dengan kemampuan intuitif.
d.             Para profesional senantiasa mengembangkan kepribadiannya.
e.              Pengakuan profesional disertai bukti rill, yang dapat berupa karya ilmiah atau produk kerja.
Tanpa adanya sikap profesionalisme dalam suatu pembangunan akan mengalami ketidakseimbangan karena sikap profesionalisme itu adalah kemampuan / kuality / kemahiran seseorang dalam menjalankan suatu pekerjaannya.
Seorang profesionalisme harus memiliki jiwa profesionalisme dan senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang professional.
a.       Kemampuan profesionalisme harus didukung oleh keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati ideal, yang dimaksud ideal itu adalah perilaku piawai yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai panutan.
b.      Meningkatkan sikap professional.
c.       Keinginan untuk meningkatkan & mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.


BAB III
KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP

A.  Kesimpulan
            Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Bangsa Indonesia terdiri atas beraneka ragam kebudayaan, suku bangsa, adat istiadat, kepercayaan dan lain-lain. Oleh karena itu akan sangat sulit untuk menyatukan pikiran dalam membangun Indonesia. Sehingga perlu adanya pembelajaran tentang sikap mental apa yang cocok dengan pembangunan Indonesia.
2.      Sikap mental yang cocok dengan pembangunan Indonesia itu antara lain adalah dalam menghadapi hidup, berorientasi pada masa depan, menjunjung tinggi kerja sama, memiliki hasrat untuk mengeksplorasi lingkungan alam dan kekuatan alam, dan menghargai hasil karya manusia.
3.      Penanaman sikap mental yang cocok untuk pembangunan Indonesia harus segera ditanamkan sejak dini sehingga akan menghasilkan manusia-manusia yang memiliki mentalitas yang baik untuk melakukan pembangunan.
 
B.  Saran
Berdasarkan pada pembahasan diatas, disarankan sebagai berikut:
1.      Sikap mental sebagian besar dari manusia Indonesia memang belum cocok dengan pembangunan. Sehingga untuk mengubah sikap mental itu, kita seharusnya mengetahui sikap mental apa yang cocok untuk pembangunan Indonesia, sehingga diharapkan dapat menjadikan Indonesia lebih baik lagi di masa mendatang.
2.      Sikap-sikap mental yang cocok dengan pembangunan Indonesia sebaiknya dilaksanakan dan dikembangkan agar pembangunan di Indonesia dapat berjalan dengan baik.
3.      Perlu adanya kerjasama antara berbagai pihak yang terkait dalam mengembangkan sikap mental yang cocok dengan pembangunan Indonesia ini.

C. Penutup
Sebagai mahasiswa saya mengharapkan bimbingan, bantuan, saran dan dukungan dari Bapak Ibu dosen serta pihak lain agar makalah ini bisa berhasil dan berguna bagi kita semua. Amin.
Tidak ada gading yang tak retak, demikian pula makalah ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan dan kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
 


Daftar Pustaka


Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat, dkk. 1999. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Lubis, Mochtar. 1990. Manusia Indonesia. Jakarta: Haji Masagung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar